Sejarah Masjid Al-Ghamamah

Masjid Ghamamah

Masjid Al-Ghamamah terletak di barat daya Masjid Nabawi, berjarak 500 meter dari Bab As-Salam.

Setiap shalat hari raya Idul Fitri atau Idul Adha Nabi selalu melaksanakan di alun-alun ini, juga pada waktu Shalat Istisqa (shalat minta hujan) karena pada acara-acara tersebut Nabi memerintahkan semua kaum muslimin mengikutinya termasuk para wanita yang sedang haid. Ketika Nabi Muhammad Saw. dan penduduk kota Madinah melakukan shalat minta hujan, belum lagi acara itu selesai, sudah datanglah mendung kemudian menurunkan hujan.

Masjid Ghamamah

Dari riwayat lain dikatakan “pada suatu ketika Nabi khutbah Idul Fitri terlalu panjang atau lama sehingga para jamaah gelisah karena terik matahari, datanglah mendung atau awan tebal yang menutupi matahari hingga acara selesai”. Untuk mengingatkan acara ini dibangunlah sebuah masjid yang diberi nama Masjid Ghamamah yang berarti awan atau mendung. Masjid ini sampai sekarang masih digunakan shalat lima waktu bagi orang-orang disekitar, namun tidak lagi digunakan tempat shalat Idul Fitri, Idul Adha, Istisqa, atau Jum’atan.

Masjid Al-Ghamamah dibangun pada masa pemerintahan Umar bin Abdul Aziz di Madinah. Kemudian direnovasi oleh Sultan Mamalik, Hasan bin Muhammad Qalawun Ash-Shalihi tahun 761 H.

Pada masa Sultan Inal (tahun 861 H) dilakukan perbaikan-perbaikan. Setelah itu, Sultan Abdul Majid I melakukan renovasi secara sempurna hingga masa kini, selain perbaikan-perbaikan yang dilakukan oleh Sultan Abdul Hamid dan Pemerintahan Arab Saudi.

Masjid Al-Ghamamah ini berbentuk persegi panjang, terdiri dari dua bagian; jalan masuk dan aula shalat. Jalan masuknya berbentuk persegi panjang dengan panjang 26 meter dan lebar empat meter. Diberi atap dengan lima kubah bola. Memiliki lengkungan runcing.

Di bagian atasnya terdapat kubah tengah yang terpasang di atas jalan masuk masjid bagian luar. Kubah-kubah ini lebih rendah dari enam kubah yang membentuk atap aula shalat. Jalan masuk terbuka di bagian utara di jalan raya melalui lengkungan runcing.

Sementara aula shalat memiliki panjang 30 meter dan lebar 15 meter aula ini dibagi menjadi dua serambi dan diatapi dengan enam kubah dalam dua barisan yang sejajar. Yang paling besar adalah kubah mihrab.

Pada dinding aula shalat bagian timur terdapat dua jendela persegi panjang. Pada bagian atasnya terdapat dua jendela kecil dan di atasnya lagi terdapat jendela ketiga berbentuk bulat. Hal yang sama juga terdapat pada aula shalat bagian barat.

Mihrab Masjid Al-Ghamamah berada di tengah dinding aula shalat bagian selatan. Di samping mihrab terdapat mimbar pualam yang memiliki sembilan tangga. Bagian atasnya terdapat kubah berbentuk kerucut. Pintunya berasal dari kayu yang dihias dengan khat Utsmani.

Sementara itu, menara azannya berada di sudut barat laut. Bagian bawah menara berbentuk persegi empat setinggi masjid. Kemudian berubah bentuk menjadi persegi delapan, dan berakhir

Di bagian luar, Masjid Al-Ghamamah dihiasi dengan lapisan batu basal hitam. Sementara itu, bagian atas kubahnya dipoles dengan warna putih. Di bagian dalam, dinding dan cekungan kubah dipoles dengan warna putih. Tiang-tiang penyangga masjid dipoles dengan warna hitam sehingga memberikan pemandangan indah pada masjid dengan dua warna yang serasi.