Berita dan Informasi

Makna Arafah

Makna Arofah

Arafah - adalah padang pasir yang menyimpan sejarah manusia. Dahulu, Nabi Ibrahim mengharapkan kelahiran anak. Sebab, bapak para Nabi itu belum mendapatkan anak meski sudah puluhan tahun menikah. Bahkan, dia mengatakan, seandainya dikaruniai anak, Ibrahim siap menjadikan anak itu sebagai kurban untuk Allah.

Allah memerhatikan perkataan itu. Pernikahan Ibrahim dengan Sarah menghasilkan seorang anak, Ismail. Ibrahim kemudian bermimpi menyembelih anaknya. Dia bangun, kemudian merenungkan mimpi itu pada 8 Dzulhijah.

Dia bertanya-tanya, apakah mimpi tersebut benar dari Allah atau bukan. Sehari kemudian dia mengetahui (‘arafa) benar mimpi itu dari Allah. Ketika itu, Ibrahim berada di padang Arafah. Dengan berat hati, Ibrahim berniat menyembelih Ismail pada 10 Dzulhijah. Namun, hal itu tak terjadi, karena Allah memerintahkan untuk menyembelih hewan kurban.

Jauh sebelum kehidupan nabi Ibrahim, padang Arafah menjadi petunjuk bagi Nabi Adam dan Hawa. Setelah meninggalkan surga, keduanya hidup berpencar. Malaikat mengarahkan mereka untuk menuju Arafah. Di sana keduanya harus bertaubat, memohon ampunan Allah atas dosa-dosa yang diperbuat.

Adam dan Hawa telah memakan buah Khuldi yang dilarang, sehingga mereka meninggalkan surga. Kemudian hidup di bumi.

Prof M Mutawalli asy-Sya’rawi dalam al-Hajjul Mabrur mengatakan, setelah Adam dan Hawa kembali bersama di Arafah, keduanya tak lagi berpisah hingga akhir hayat.

Keduanya sama-sama memohon ampunan Allah. Dalam Alquran disebutkan, “Keduanya berkata, Ya Tuhan, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.” (QS al-A’raf: 23).

Kemudian dikatakan, Adam dan Hawa telah mengetahui (‘arafa) dosanya. Mereka juga mengetahui caranya bertaubat.

Kisah Ibrahim dan Adam sama-sama menyiratkan makna, Arafah adalah tempat untuk mendekatkan diri kepada Allah. Manusia tak hanya memikirkan dirinya sendiri, atau orang lain. Mereka juga harus merenungkan dosa-dosa yang pernah diperbuat. Mereka kemudian memohon ampunan Allah, seperti yang dilakukan Adam, Hawa, dan Ibrahim, di Arafah.

Kini Arafah menjadi tempat umat Islam berdiam diri atau berwukuf. Di sana, jamaah haji berzikir dan bertaubat kepada Allah.

Makna Arofah

apa pun asal-muasal penamaan tempat itu Arafah dan kegiatan ibadah pada hari itu dengan Hari Arafah atau Hari Tarwiyah, tapi yang tidak diragukan hari itu merupakan hari yang mulia, yang dibanggakan Allah SWT kepada para hamba-Nya.

Ini dijelaskan Allah dalam firman-Nya: “Lihatlah kepada hamba-hamba-Ku itu. Mereka telah meninggalkan semua yang dimilikinya dan mendatangi-Ku dengan kusut dan berdebu, memohon ampunan dan rahmat-Ku. Aku bersaksi dengan kalian bahwa Aku telah mengampuni mereka…”

Di Arafah kita melihat persamaan yang merata dan keberadaan yang utuh bagi para jamaah haji yang datang ke Baitullah Al-Haram. Tidak seorang pun yang tersisa. Dalam waktu yang sama, mereka mengakhiri wukuf bersamaan dengan terbenamnya matahari di Hari Arafah. Tempat ini merupakan satu-satunya tempat berkumpul manusia dalam keadaan seperti itu dan dalam waktu seperti itu pula.

Pakaian pun sama dan seragam, tidak ada bedanya antara yang kaya dan yang miskin, yang pangkatnya tinggi dan yang rendah, yang bangsawan dan rakyat biasa. Tidak ada rasa sombong dan angkuh. Semua merendahkan diri mengharap ampunan dari sang Pencipta yang Maha Agung, Allah SWT.

Di Arafah anda tidak akan menemukan orang yang berkata, “Saya si Fulan…” dengan nada membanggakan diri dengan kekayaan dan pangkatnya. Semua merendahkan diri di hadapan yang Maha Tinggi.

Makna Arofah

Semua menunjukkan rasa rendah hati dan rasa takut kepada Allah. Seolah-olah kebaikan itu tidak akan meliputi semua orang, kecuali bila semua bersikap tunduk dan patuh kepada-Nya. Juga tidak ada yang mencoba memisahkan diri dan menganggap diri lebih baik dari orang lain.

Pada hari ini, ketika semua orang menyingkirkan semua rasa sombong dan angkuhnya, sifat jahat dan dengkinya, Allah SWT segera menggulirkan maghfirah dan rahmat-Nya. Karena memang yang memisahkan kita dari maghfirah dan rahmat Allah adalah kesombongan dan kezaliman kita.

Semoga kita semua Bisa mengambil sejarah dan Allah kembalikan Kita untuk Berhaji dan Berumroh ke Makkah Almukarromah dan Berziarah ke Maqam Rasulullah SAW. Amin

Travel umroh terbaik

Apakah Anda sedang mencari biro haji dan travel umroh terbaik?

Datang saja ke  PT.Aida Tourindo Wisata (Aida Tour) yang beralamat di Cempaka Putih Tengah No.33 Jakarta Pusat ( Telp.021-42872190). Anda pasti bertanya kenapa harus Aida Tour? Karena Aida Tour merupakan travel haji plus dan umroh yang berizin resmi Departemen Agama RI sejak tahun 2000. Aida Tour juga merupakan Travel Haji Plus dan Umroh yang menghadirkan pembimbing-pembimbing ibadah yang ahli dan mendalami bidang Fiqih Islam,terutama untuk masalah umroh dan haji.Aida Tourindo Wisata juga diakui sebagai salah satu travel umroh terbaik di Jakarta.

Bagi Anda yang ingin berangkat Haji Plus di Aida Tour, Anda akan diberikan gambaran secara visual mengenai tempat menginap selama umroh dan juga ibadah haji. Travel Umroh dan Haji Aida Tour juga memberikan secara visual gambar perjalanan dari masjid menuju hotel agar jamaah tidak nyasar, dan juga tata cara pelaksanaan haji. (Info Umroh Murah Aida Tourindo Wisata ↵)

Harga Keberangkatan Travel Umroh dan Haji Aida Tourindo

Direktur Utama PT. Aida Tourindo Wisata Husein Badeges B.Sc mengatakan,mengikuti ketetapan Kementrian Agama sebesar 8.000 dollar. Setoran awal sebesar 4.000 dolar yang disetorkan langsung ke kementrian agama. Setelah itu baru sisanya. Seandainya batal, uang tersebut akan dikembalikan”, ujar Husein.Untuk umrohnya, Husein menjelaskan harganya kurang lebih 1700 dolar paling murah dan program umroh yang umum dilaksanakan 9 hari. “Perjalanan 2 hari, dimadinah 2 malam dan 5 malam di Mekah.

Untuk Jeddah kita bikin semacam city tour setelah itu kembali ke Mekah dan melanjutkan ibadah”, ujar Husein.Husein juga menjelaskan pada tahun 2006, Ustad Yusuf Mansur dan penceramah kondang Mamah Dedeh mempercayakan keberangkatan ibadah haji dan Umrohnya kepada Aida Tour.Kepercayaan dari penceramah kondang serta banyaknya kelebihan yang didapat saat pergi haji dan umroh yang telah penulis sebutkan diatas, membuat penulis merekomendasikan Aida Tour kepada Anda. Jadi tunggu apalagi, daftar sekarang juga. Klik disini untuk informasi mengenai travel umroh terbaik ↵ PT.Aida Tourindo Wisata.

Travel Umroh Terbaik Aida Tourindo Wisata

Travel Umroh Terbaik

Travel Umroh Terbaik

Since. Further. Further. At the present time. From time to time. Sooner or later. At the same time. Up to the present time. Quickly. Finally. After. Later. Hence.  

Masjid Abu Bakar Siddiq R. A

Masjid Abu Bakar

Masjid Abu Bakar Siddiq R.A.merupakan salah satu dari tiga masjid tua bersejarah di barat daya (sebelah timur bagian selatan) Masjid Nabawi di Madinah. Masjid ini berjejer dengan Masjid Ghamama dan Masjid Ali. Hanya terpaut sekitar 40 meter dari Masjid Ghamama dan merupakan salah satu masjid yang kemungkinan besar akan turut di robohkan oleh pemerintah Saudi Arabia dalam rangka perluasan masjid Nabawi dalam waktu dekat ini.

Ada dua versi tentang latar belakang sejarah Masjid Abu Bakar, versi pertama Masjid ini merupakan salah satu tempat yang pernah digunakan untuk shalat ‘Id oleh Rasulullah dan Abu Bakar Shiddiq, kemudian nama masjid ini pun dinisbahkan kepadanya. Versi kedua menyebutkan bahwa dilokasi masjid ini berdiri dulunya merupakan rumah kediaman Abu Bakar Siddiq. R.A. Masjid Abu Bakar Shiddiq dibangun pada masa pemerintahan Umar bin Abdul Aziz. Lalu direnovasi oleh Sultan Mahmud II pada tahun 1254 H.

Masjid Abu Bakar Shiddiq berbentuk segi empat. Panjang rusuknya sembilan meter. Dibangun dengan batu basal. Bagian dalam dicat dengan wama putih. Jalan masuknya berada di dinding selatan. Di sebelah kanan dan kiri jalan masuk terdapat dua jendela persegi panjang.

Jalan masuk langsung mengantarkan jamaah menuju ruang shalat. Ruang shalatnya beratapkan kubah yang dari dalam, tingginya mencapai 12 meter. Di bagian atas leher kubah terdapat delapan jendela kecil untuk penerangan. Mihrabnya terletak di tengah dinding masjid sebelah selatan dengan tinggi ± 2 meter. Luas cekungan (celah) mihrab sekitar 80 cm.

Menara adzannya berada di sudut timur laut. Bagian fondasinya memiliki area persegi empat. Terdapat tiang silinder di tengahnya dan berakhir dengan muqamas penyangga balkon. Di atas tiang silinder itu dilapisi logam berbentuk kerucut dengan bagian paling atas berbentuk bulan sabit.

Di arah timur Masjid Abu Bakar terdapat teras persegi panjang dengan panjang dari utara ke barat mencapai 13 meter dan lebar enam meter. Pintu dari arah utara menghampar ke halaman Masjid Al-Ghamamah. Dinding sebelah timur dilapisi batu hitam. Kubah menaranya dicat dengan warna putih sehingga dua warna terpadu dengan serasi dan indah.

Masjid Ali bin Abi Thalib

Masjid Ali

Masjid Ali bin Abi Thalib terletak di sebelah barat Masjid Nabawi sejauh sekitar 290 meter dan sekitar 122 meter dari Masjid Ghamama. Menurut riwayat, Nabi pernah sholat Ied di tempat ini. sementara riwayat yang lain menyebutkan bahwa masjid ini dibangun di teratak rumah Khalifah Ali Bin Abi Thalib. Lokasinya berdekatan dengan Masjid Abu Bakar, Masjid Ghamama. Saat ini masjid ini dipagar tinggi sehingga tidak bisa dimasuki dan didalamnya terdapat beberapa pohon kurma yang asri.

Masjid ini dibangun pada masa Umar bin Abdul Aziz memerintah Madinah. Kemudian direnovasi oleh Gubernur Dhaigham Al-Manshuri, Gubemur Madinah tahun 881 H. Setelah itu juga direhab oleh Sultan Abdul Majid I, tahun 1269 H. Lalu direnovasi oleh Raja Fahd pada tahun 1411 H sehingga luasnya mencapai 682 m2 dengan menara setinggi 26 meter. Jika diperhatikan, menara Masjid Alibin Abi Thalib serupa dengan menara Masjid Umar bin Khattab.

Masjid ini berbentuk persegi panjang. Dari timur ke barat, panjangnya 35 meter dan lebar sembilan meter. Terdiri dari satu serambi yang berakhir dari dua arah; timur dan barat dengan satu kamar kecil. Memang tidak ada keistimewaan ataupun anjuran untuk sholat di masjid ini bagi para jemaah Haji ataupun Umrah, karena memang pembangunannya ditujukan bagi mengenang Khalifah Ali Bin Abi Thalib, khalifah ke empat atau terahir dari empat Khulafaur Rasyidin.

Mihrabnya berada di tengah dinding kiblat. Tingginya mencapai tiga meter. Cekungannya kira-kira 1,25 meter. Menara masjid berdiri tegak di sebelah timur dekat dengan jalan masuk masjid, tidak terlalu tinggi dan memiliki satu balkon. Berakhir dengan bentuk kerucut dari logam. Masjid Ali bin Abi Thalib dibangun dengan batu basal dan dicat dengan warna putih. Dinding sebelah timurnya dihias dengan batu hitam.

Sejarah Masjid Ijabah

Masjid Ijabah cukup dikenal di kalangan peziarah di Kota Madinah. Betapa tidak, di tempat inilah Rasulullah SAW pernah shalat dua rakaat dan bersujud agak lama untuk memanjatkan doa kepada Allah SWT karena kecintaannya kepada ummat. Di masjid inilah doa tersebut kemudian langsung diijabah (dijawab dan dikabulkan oleh Allah SWT).

Masjid Ijabah

Tidak sulit mencapai lokasi Masjid Al Ijabah, yang dahulu dikenal sebagai Masjid Bani Muawiyah (karena berada di perkampungan Bani Muawiyah bin Malik bin Auf, yang merupakan Suku Aus-Penduduk asli Madinah) ini. Masjid Ijabah lokasinya sebenarnya relatif dekat dengan Masjid Nabawi. Hanya sekitar 580 meter. Atau, jika dari sisi komplek Makam Baqi, hanya sekitar 385 meter. Tepatnya di Jalan Raja Faisal (Malik Faisal), Ring Road 1 di kawasan Marzakiyah. Yup, jadi cukup dekat untuk ditempuh dengan jalan kaki saja. Susuri saja Masjid Nabawi dan berjalanlah ke arah utara. Sembari menikmati pemandangan hiruk-pikuk Kota Madinah di sekitar Masjid Nabawi, tanpa terasa kaki anda akan sampai ke Masjid Ijabah.

Sisi lain yang menarik saat anda berada di sekitar kawasan Masjid Ijabah ini adalah banyaknya restoran atau jajanan pinggir jalan yang menjual makanan khas Indonesia. Kalau anda kangen dengan bakso atau karedok, maka ke arah Masjid Ijabah-lah seharusnya anda berjalan. Karena lingkungan di sekitar Masjid Ijabah yang banyak menawarkan makanan khas Indonesia dan toko-toko yang menjual produk-produk Indonesia lainnya, maka masjid ini pada hari Jumat menjadi titik berkumpulnya para pekerja dan pelajar asal Indonesia di Kota Madinah dan sekitarnya.

Masjid yang telah direnovasi oleh Raja Fahd pada tahun 1418 Hijriyah atau bertepatan dengan tahun 1997 Masehi ini memang tidak terlalu kentara penampakannya. Mungkin untuk memudahkan anda menemukannya anda dapat bertanya kepada orang-orang yang berlalu lalang di jalan atau para pemilik toko yang akan sangat bersahabat untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan anda. Luas keseluruhan Masjid Ijabah sekitar 1.000 meter persegi. Ada bagian khusus untuk peziarah perempuan yaitu di sisi kiri masjid yang luasnya sekitar 100 meter persegi. Pada hari-hari biasa (bukan musim haji), tidak banyak peziarah asal Indonesia yang berkunjung ke masjid ini, kecuali mereka yang kebetulan hotelnya berdekatan dengan lokasi masjid. Barangkali anda akan lebih mudah menemukan para peziarah dari India, Bangladesh atau Pakistan shlat di sini. Beberapa di antaranya mungkin terlihat mengusap-usap dan menciumi dinding masjid (jangan anda tiru). Walaupun keberadaannya tidak terlalu mencolok mata, Masjid Ijabah sebenarnya dapat dikenali dari menaranya yang mempunyai tinggi 33,75 meter, dan kubah putih setinggi 11, 7 meter berdiameter 9,5 meter. Jika anda masuk ke dalamnya, suasana nyaman akan terasa. Hamparan karpet berwarna merah dengan seluruh bagian masjid yang bersih dan terang akan menyambut anda. Beberapa buah kipas angin menempel di pilar-pilar masjid membantu pendingin udara. Dianjurkan agar anda shalat sunnat di dalamnya dan berdoa. Tentunya dengan shalat dan berdoa di tempat suci ini, anda telah menapak-tilasi perjalanan Rasulullah SAW. Semoga segala doa anda juga diijabah, dikabulkan oleh Allah SWT. Amin ya Rabbal Alamin.

Masjid Ijabah, yang letaknya bersebelahan dengan Rumah Sakit Al Ansar (Mutawassifa’ Al Ansar, sebuah rumah sakit berukuran kecil tapi penting peranannya bagi para peziarah yang jatuh sakit di Kota Madinah saat menjalankan ibadah haji atau umrah), telah menjadi bukti betapa besar kecintaan Rasulullah SAW kepada ummatNya. Di masjid inilah Rasulullah pernah berdoa kepada Allah untuk memohon 3 hal terkait ummat Islam. Menurut riwayat, suatu hari Rasulullah SAW baru kembali dari gunung. Beliau kemudian singgah di Masjid Bani Muawiyah (nama masjid ini pada zaman dulu) dan shalat dua rakaat. Beliau bersujud agak lama dari biasanya. Setelah shalat Beliau berkata kepada para sahabat yang ikut shalat di belakang Beliau dan berkata, “ Saya telah memohon kepada Tuhan agar tidak membinasakan ummatku dengan kekeringan dan kelaparan, Iapun mengabulkannya. Aku mohon kepada Tuhan untuk tidak membinasakan ummatku dengan menenggelamkannya, Iapun mengabulkannya. Dan aku mohon agar tidak ada fitnah dan perbedaan di antara mereka, tetapi Dia tidak mengabulkannya. (Shahih Muslim, 52: 2890).

Nah, jadi kalau anda sedang berziarah di Kota Madinah dan berjalan-jalan di sekitar Masjid Nabawi, tentu sebaiknya anda meluangkan waktu untuk mengunjungi Masjid Ijabah ini.

Sejarah Masjid Al-Ghamamah

Masjid Ghamamah

Masjid Al-Ghamamah terletak di barat daya Masjid Nabawi, berjarak 500 meter dari Bab As-Salam.

Setiap shalat hari raya Idul Fitri atau Idul Adha Nabi selalu melaksanakan di alun-alun ini, juga pada waktu Shalat Istisqa (shalat minta hujan) karena pada acara-acara tersebut Nabi memerintahkan semua kaum muslimin mengikutinya termasuk para wanita yang sedang haid. Ketika Nabi Muhammad Saw. dan penduduk kota Madinah melakukan shalat minta hujan, belum lagi acara itu selesai, sudah datanglah mendung kemudian menurunkan hujan.

Masjid Ghamamah

Dari riwayat lain dikatakan “pada suatu ketika Nabi khutbah Idul Fitri terlalu panjang atau lama sehingga para jamaah gelisah karena terik matahari, datanglah mendung atau awan tebal yang menutupi matahari hingga acara selesai”. Untuk mengingatkan acara ini dibangunlah sebuah masjid yang diberi nama Masjid Ghamamah yang berarti awan atau mendung. Masjid ini sampai sekarang masih digunakan shalat lima waktu bagi orang-orang disekitar, namun tidak lagi digunakan tempat shalat Idul Fitri, Idul Adha, Istisqa, atau Jum’atan.

Masjid Al-Ghamamah dibangun pada masa pemerintahan Umar bin Abdul Aziz di Madinah. Kemudian direnovasi oleh Sultan Mamalik, Hasan bin Muhammad Qalawun Ash-Shalihi tahun 761 H.

Pada masa Sultan Inal (tahun 861 H) dilakukan perbaikan-perbaikan. Setelah itu, Sultan Abdul Majid I melakukan renovasi secara sempurna hingga masa kini, selain perbaikan-perbaikan yang dilakukan oleh Sultan Abdul Hamid dan Pemerintahan Arab Saudi.

Masjid Al-Ghamamah ini berbentuk persegi panjang, terdiri dari dua bagian; jalan masuk dan aula shalat. Jalan masuknya berbentuk persegi panjang dengan panjang 26 meter dan lebar empat meter. Diberi atap dengan lima kubah bola. Memiliki lengkungan runcing.

Di bagian atasnya terdapat kubah tengah yang terpasang di atas jalan masuk masjid bagian luar. Kubah-kubah ini lebih rendah dari enam kubah yang membentuk atap aula shalat. Jalan masuk terbuka di bagian utara di jalan raya melalui lengkungan runcing.

Sementara aula shalat memiliki panjang 30 meter dan lebar 15 meter aula ini dibagi menjadi dua serambi dan diatapi dengan enam kubah dalam dua barisan yang sejajar. Yang paling besar adalah kubah mihrab.

Pada dinding aula shalat bagian timur terdapat dua jendela persegi panjang. Pada bagian atasnya terdapat dua jendela kecil dan di atasnya lagi terdapat jendela ketiga berbentuk bulat. Hal yang sama juga terdapat pada aula shalat bagian barat.

Mihrab Masjid Al-Ghamamah berada di tengah dinding aula shalat bagian selatan. Di samping mihrab terdapat mimbar pualam yang memiliki sembilan tangga. Bagian atasnya terdapat kubah berbentuk kerucut. Pintunya berasal dari kayu yang dihias dengan khat Utsmani.

Sementara itu, menara azannya berada di sudut barat laut. Bagian bawah menara berbentuk persegi empat setinggi masjid. Kemudian berubah bentuk menjadi persegi delapan, dan berakhir

Di bagian luar, Masjid Al-Ghamamah dihiasi dengan lapisan batu basal hitam. Sementara itu, bagian atas kubahnya dipoles dengan warna putih. Di bagian dalam, dinding dan cekungan kubah dipoles dengan warna putih. Tiang-tiang penyangga masjid dipoles dengan warna hitam sehingga memberikan pemandangan indah pada masjid dengan dua warna yang serasi.

Apa Itu Miqat?

Dalam ibadah haji atau umrah, lazim terdengar orang menyebut kata-kata miqat.

Biasanya dalam bentuk pertanyaan, apakah sudah mengambil miqat? Di manakah dan kapan miqat dilaksanakan? Dan, sebagainya. Berikut penjelasannya.

Miqat secara harfiah berarti batas yaitu garis demarkasi atau garis batas antara boleh atau tidak,atau perintah mulai atau berhenti, yaitu kapan mulai melapazkan niat dan maksud melintasi batas antara Tanah Biasa dengan Tanah Suci.

Miqat dibedakan atas dua macam yaitu ; Miqat Zamani (batas waktu) dan Miqat Makani (batas letak tanah).

1. MIQAT ZAMANI -
Adalah Miqat yang berhubungan dengan batas waktu, yaitu kapan atau pada tanggal dan bulan apa hitungan Haji itu ?. Miqat Zamani disebut dalam Al-Qur’an dalam surat Al-Baqarah ayat 189 dan 197. Ayat pertama menjelaskan kedudukan bulan sabit sebagai tanda waktu bagi manusia dan Miqat bagi jama’ah haji. Ayat kedua menegaskan, bahwa yang dimaksud dengan Bulan – Bulan Haji atau waktu haji adalah beberapa bulan tertentu.

Para Ulama sepakat bahwa bulan yang dimaksud adalah bulan Syawal, Zulkaidah dan Zulhijah. Yaitu mulai dari tanggal 1 syawal s/d 10 Zulhijah. yang jumlah keseluruhannya adalah 69 hari. akan tetapi untuk bulan Zulhijah masih ada perbedaan pendapat apakah seluruh atau sebagian saja.

2. MIQAT MAKANI -
Adalah batas yang ditentukan berdasarkan lokasi, tempat seseorang harus memulai niat Ihram sebelum melintasi tanah haram dengan niat hendak melaksanakan ibadah umrah atau haji.

Apa itu Miqat

Bagi mereka yang tinggal di Mekah, tempat untuk ihram haji adalah Mekah itu sendiri. Untuk umrah, jamaah harus ke luar dari tanah haram Mekah. Sebaiknya di Ji’ranah, Tan’eim atau Hudaibiyah.

Sedangkan Bir Ali yang juga disebut Zulhulayfah, letaknya sekitar 12 km dari Madinah atau sekitar 450 km dari Mekah al-Mukarramah, merupakan miqat bagi orang yang datang dari arah Madinah.

Al-Juhfah, suatu tempat yang terletak antara Mekah dan Madinah, sekitar 187 km dari Mekah, dan merupakan miqat bagi jama’ah yang datang dari Syam (Suriah), Mesir dan Maroko atau yang searah. Setelah hilangnya ciri–ciri Al-juhfah, miqat ini diganti dengan miqat lainnya yakni Rabigh, yang berjarak 204 km dari Mekah.

Yalamlam, sebuah bukit di sebelah selatan 54 km dari Mekah, merupakan miqat bagi jamaah yang datang dari arah Yaman dan Asia, seperti Indonesia, Malaysia, Singapura dan kebanyakan negara Asia lain.

Qarnul Manazil, sebuah bukit di sebelah Timur 94 km dari Mekah.

Zatu Irqin, suatu tempat Miqat yang terletak di sebelah utara Mekah, berjarak 94 km dari Mekah, merupakan miqat bagi jama’ah dari Iraq dan yang searah.

Jika jemaah haji atau umrah melewati miqat tanpa ihram, maka ia harus kembali ke miqatnya semula. Atau mengambil miqat dari Tan’eim atau Ji’ranah. Bila tidak, maka ia wajib membayar dam atau denda menyembelih satu ekor kambing.

Semua Miqat ditetapkan langsung oleh Nabi sebagaimana disebutkan disebutkan dalam hadis-hadis Bukhari, Muslim dll.
(Disarikan dari berbagai sumber)

Raja Salman Segera Perluas Masjid Nabawi

Macam-Macam Thawaf

MADINAH (KUH) - – Penjaga Dua Masjid Suci Raja Salman berharap semua prosedur yang berkaitan dengan perluasan Masjid Nabawi dan proyek-proyek terkait di Madinah segera diselesaikan. Hal ini dimaksudkan agar proyek perluasan Masjdi Nabawi segera dimulai.

Pangeran Faisal Bin Salman, Emir Madinah, Rabu (5/10) mengungkapkan bahwa Raja menginginkan semua prosedur harus dibereskan sebelum proyek perluasan dimulai. Untuk itu, Pangeran Faisal telah mengarahkan semua instansi yang terkait untuk segera menyerahkan laporan tentang langkah-langkah yang harus diambil.

“Komite yang terkait sedang menyelesaikan pekerjaannya, kemudian rincian akan diumumkan segera,” katanya dalam pertemuan dengan anggota Kamar Dagang dan Industri Madinah.

Sewaktu kunjungan ke Madinah pada tahun lalu, Raja Salman menyetujui desain proyek perluasan Masjid Nabawi direvisi, termasuk proyek Darb Al-Sunnah (3 km yang membentang antara Masjid Nabawi dan Masjid Quba) dan pembangunan kembali Masjid Quba.

Departemen Keuangan mengatakan bahwa Raja telah melihat proposal dan ruang-lingkup desain proyek perluasan Masjid Nabawi dalam sekala besar dan juga terkait skema proyek lainnya. Seperti Dar Al-Hijrah, Raja Salman Center for Conferences, dan pembangunan area sentral baru lainnya di Madinah.

Macam – Macam Thawaf

Thawaf- secara bahasa berarti berputar mengelilingi sesuatu, seperti kita sebut pada thawaf keliling Ka’bah. Secara istilah, thawaf berarti berputar mengelilingi baitul harom (Ka’bah).

Macam-Macam Thawaf

Thawaf di bagi menjadi 5 Yaitu Thawaf Umroh, Thawaf Qudum, Thawaf Ifadah, Thawaf Sunnah dan Thawaf Wada’. penjelesan mengenai thawaf adalah sebagai berikut.

1. THAWAF UMROH -
Thawaf ‘umroh merupakan di antara rukun ‘umroh. Pertama kali setelah orang berihram untuk umroh maka ia melakukan thawaf ini. Thawaf Umroh juga dilaksanakan juga bagi yang berHaji Tamattu atau Ifrad.

2. THAWAF QUDUM -
Thawaf Qudum adalah Thawaf penghormatan bagi yang datang dari luar kota Makkah. Hukum thawaf qudum adalah sunnah bagi orang yang mendatangi Makkah sebagai bentuk penghormatan kepada Baitullah (bagi yang berhaji Ifrad atau Qiran). Oleh karena itu, disunnahkan thawaf qudum ini didahulukan, bukan diakhirkan.

3. THAWAF IFADAH -
Thawaf yang satu ini merupakan salah satu rukun haji yang telah disepakati. Thawaf ini biasa disebut thawaf ziyaroh atau thawaf fardh. Dan biasa pula disebut thawaf rukn karena ia merupakan rukun haji. Thawaf ini tidak bisa tergantikan, kalau Jamaah Haji tidak mengerjakan Thawaf Ifadah ini maka tidak Sah Hajinya.

4. THAWAF Sunnah -
Thawaf Sunnah bisa dikerjakan kapan saja pada setiap kesempatan. dan Thawaf ini juga di Sunnahkan apabila memasuki Masjidil Haram untuk menggantikan Sholat Sunnah tahiyyatul masjid.

5. THAWAF Wada’ -
Penghormatan akhir ke baitullah, hukumnya wajib bagi jamaah Haji atau Umroh saat akan meninggalkan kota Mekkah.

Demikianlah pembahasan mengenai Thawaf dari kami semoga bermanfaat bagi anda. Wassalam….

Ibadah Haji

PERBEDAAN HAJI TAMATTU, IFRAD DAN QIRAN PADA IBADAH HAJI

(Info Ibadah haji Plus Aida Tourindo Wisata↵)

HAJI TAMATTU-

yaitu melaksanakan ibadah Haji dengan mendahulukan Umroh. Pelaksanaannya ialah pada waktu menuju kota Mekkah, dan sebelum sampai di Mekkah ketika tiba di Miqat, kita memakai ihram untuk Umroh (niatnya niat Umroh), kemudian pada waktu tiba di Mekkah istirahat sebentar di pemondokan kemudian kita melaksanakan Ibadah Umroh di Masjidil Haram yaitu thawaf, sa’i dan tahallul. Setelah selesai melaksanakan Umroh yaitu thawaf, sai dan tahallul, jamaah diperbolehkan melepas pakaian ihram dan menggantinya dengan pakaian biasa.Kemudian pada tanggal 8 atau 9 dzulhijjah kita kembali ber-Ihram dengan berniat untuk melaksanakan ibadah haji (dengan niat haji) dilakukan di pemondokan di Mekkah tidak perlu kembali ke Miqat.Jamaah yang melaksanakan Haji Tamattu diwajibkan membayar Dam (menyembelih seekor kambing). Bagi jamaah haji yang tidak mampu dapat menggantinya dengan berpuasa selama sepuluh hari yaitu 3 hari di tanah suci dan 7 hari ketika berada di tanah air.

Haji IfraD -

yaitu melaksanakan ibadah haji dengan melaksanakan haji dahulu baru kemudian melaksanakan umroh. Pelaksanaannya adalah pada waktu menuju kota Mekkah sebelum sampai di Mekkah ketika tiba di Miqat, kita me makai ihram untuk berhaji (niatnya niat haji).Kemudian setelah tiba di pemondokan kita tetap memakai ihram tetapi disunatkan melaksanakan thawaf qudum (thawaf selamat datang) boleh juga diikuti sa’i, jika melaksanakan sa’i, maka pada waktu thawaf ifadah tidak melaksanakan sa’i lagi, hal ini dilaksanakan sebelum haji tanggal 8 Dzulhijjah.

Setelah melaksanakan sunat thawaf qudum (thawaf dan sa’i) tidak dilanjutkan dengan tahallul, jadi masih dalam keadaan berihram sampai dengan waktu pelaksanaan haji, jadi pada tanggal 8 atau 9 Dzulhijjah tidak perlu berniat haji lagi.Kemudian setelah selesai pelaksanaan haji bagi yang mengambil Haji Ifrad diwajibkan melaksanakan umroh yang waktunya kapan saja boleh dilakukan selama masih dalam musim haji sebelum meninggalkan kota Mekkah.

Haji Qiran

yaitu melaksanakan ibadah haji dan umroh dengan dilakukan secara bersamaan. Bagi jamaah yang memilih untuk melaksanakan haji dengan cara seperti ini dikenakan dam.

Jamaah haji Indonesia biasanya menggunakan cara ibadah haji tamattu,namun hal tersebut tergantung dari kloter keberangkatan jamaah haji itu sendiri. Semoga dengan penjelasan ini anda tidak dibingungkan lagi dengan perbedaan antara ketiganya. Kunjungi website resmi PT.Aida Tourindo Wisata untuk informasi lebih lanjut mengenai Haji Khusus dan Umroh Murah.

ibadah haji

ibadah haji

In a moment. Later. Last. Until. Till. Since. Then. Before. Hence. Since.